Maintenance Gen Y di Dunia Kerja

Setiap kita lahir pada generasi yang berbeda, karena lingkungan ekonomi, politik, dan teknologi yang juga berbeda. Setiap orang kemudian beradaptasi dengan lingkungan di saat mana dia dibesarkan. Kini kita memasuki generasi Y.

Gen Wai -begitu sebutan generasi yang hidup di masa kecanggihan teknologi- kata Defi AKA, RFC, Dosen FE UK Petra Surabaya, dalam talkshow Inspirasi Solusi di radio SS (13/6/2015), dimulai sejak 1980-an di luar negeri dan 1990-an di negeri ini. Dengan demikian, usia Gen Y ini sekarang antara 20-35 tahun.

Ada banyak sebutan terhadap mereka, seperti generasi digital, next, wire, atau gen net. Generasi Y memiliki karakteristik yang sangat unik, sehingga kita harus memahami ketika kita ingin berinteraksi dengan mereka. Bedakan dengan mereka yang lahir pada 2000-an yang disebut Gen Z, yang karakternya berbeda lagi.

Bila sebuah perusahaan dikelola oleh Gen X, sementara karyawan pendukungnya adalah Gen Y, apakah yang kemudian terjadi? Biasanya, setiap generasi akan merasa dirinya superior terhadap generasi berikutnya. Gen X merasa lebih pintar dan berpengalaman, sementara  Gen Y merasa lebih bijak. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah.

Ada 9 karakteristik yang melekat pada Gen Y. Antara lain;

  1. Yollo gen (you only live one) atau hidup hanya sekali, mengapa susah-susah.
  2. Trophy gen, semua mendapat juara mendapat piala. Bukan seperti dulu, tropi untuk satu juara. Mereka lebih manja dan rapuh, kurang tangguh.
  3. Lazy gen, mereka menghindari kerja keras, lebih suka bilang kerja cerdas. Mereka labih memilih kerja yang fleksibel.
  4. Questioning gen, suka mempertanyakan, suka kebebasan dan otonomi.
  5. Highly sociable, menghargai sebuah hubungan/interaksi, suka twitter dan media sosial karena dianggap mewakili karakternya.
  6. Uniqe gen, menghargai diversity/perbedaan.
  7. Mobile gen, sehingga mengharapkan loyalitas. Kecenderungannya mereka ingin jadi pengusaha.
  8. Instant gen, mereka tidak mau membuang waktu lama untuk kesuksesan sebuah karir/sukses.
  9. Achiever gen, mereka melihat pekerjaan itu sebuah meaning, punya arti. Memilih-milih kerja yang meaningfull baginya.

Fenomenanya, ada unsur konflik antar generasi itu dalam perusahaan meski derajatnya berbeda. Gen X merasa tidak mudah memahami karakter Gen Y, sehingga praktik dalam dunia kerja muncul ketidakseimbangan antar generasi. Masing-masing harus melakukan cross generation agar kedua generasi ini sejalan dalam perusahaan. Harus saling membangun empati diantara generasi itu. Lagi-lagi, kebijaksanaan yang akan mampu menyandingkan generasi yang berbeda itu. Bila tidak, konflik antar generasi tidak akan menemukan jalan keluar yang baik.

Sumber: Majalah SCG