Distributed Leadership

 

Ada banyak model kepemimpinan yang sering kita jumpai dalam dunia bisnis. Yang paling sering kita lihat adalah model kepemimpinan comment & control (perintah & mengawasi). Alasannya, agar karyawan bisa bekerja dengan baik, harus diperintah. Agar hasil kerjanya bagus, karyawan mesti diawasi.

Namun, seiring perkembangan jaman dan teknologi, ternyata ikut memicu perubahan model kepemimpinan dalam dunia usaha. Leadership, kata Ricky Sudarsono, SE, MRE, CFP, Dosen Tetap International Business Management FE UK Petra Surabaya, dalam talkshow Inspirasi Solusi (16/08/2014) di Suara Surabaya, kini sudah tidak lagi dipegang oleh seorang atau beberapa orang saja. Pengaruh dan tugas kepemimpinan kini cenderung terdistribusikan kepada tangan-tangan yang profesional (distributed leadership).

Model kepemimpinan terdistribusi ini mengacu pada konsep bahwa kepemimpinan bukan melulu soal bagaimana memimpin. Kemepimpinan di jaman ini sudah mengarah pada kepemimpinan yang pengaruh dan tugasnya bisa didistribusikan. Kadang pemimpin tidak bisa berhasil karena hanya bisa mendelegasikan, yang lebih berkaitan dengan tugas. Tapi pengaruhnya tidak tersertakan. Atau mungkin sebaliknya, sehingga pemimpin tidak menuai sukses.

Nah, distributed leadership ini menyangkut dua hal, yakni pengaruh dan tugas, sekaligus. Mungkin ada yang gerah dengan model kepemimpinan ini, karena akan merasa bahwa begitu didistribusikan, pengaruh dia sebagai pemimpin akan hilang. Padahal sebenarnya tidak. Pemimpin topnya tetap satu, namun pemimpin yang berada di level bawahnya tetap mendapat mandat dan kewenangan untuk memutuskan. Pengaruh top leader terhadap leader pada level di bawahnya sama dan sebangun. Sehingga keputusan yang muncul pun memiliki kekuatan yang sama.

Jadi, seorang karyawan tidak kemudian hanya bisa menjalankan tugasnya. Alhasil karyawan juga memiliki pengaruh yang sama dengan model kepemimpinan yang dikembangkan dalam sebuah perusahaan. Model kepemimpinan ini, kini sudah menjadi keharusan karena ada banyak pintu yang bisa dimaksimalkan.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, misalnya, telah memungkinkan segala sesuatu terdistribusi secara real time. Bahkan banyak pekerjaan bisa dikerjakan dan diselesaikan dari rumah, misalnya.

Selain itu, dulu pemimpin yang menjadi pemimpin karena memiliki pengetahuan lebih dari yang dipimpin. Namun kini sumber pengetahuan sudah tersebar sedemikian luas dan dahsyatnya, sehingga setiap orang bisa mengakses pengetahun sebanyak-banyaknya, bahkan melebihi pimpinannya.

Tapi pemimpin bukan berarti hanya perlu pengetahuan lebih. Pemimpin juga butuh wisdom. Seberapapun pengetahuan yang bisa Anda dapat dari internet, tidak cukup bila tidak disertai dengan wisdom. Oleh karena itu, pemimpin yang wisdom, akan sangat menghargai bawahannya hingga pada level terendah sekalipun. Pemimpin itu akan menghargai setiap insan yang menjadi pendukung dalam sebuah institusi bisnis. Karena bawahan tetap orang-orang yang pandai, berpengetahuan, dan memiliki wisdom masing-masing. Tugas top leader adalah mengembangkan setiap ide yang muncul, yang layak didukung untuk dikembangkan.

Pemimpin di masa distributed leadership, akan sibuk menggali ide-ide, kreativitas, keberanian, dan nilai-nilai positif yang baik untuk dikembangkan menjadi budaya dalam dunia bisnis. Pemimpin tidak bisa lagi hanya duduk manis, eksklusif, dan menutup diri dari kepungan ide dan kreatifitas yang berserakan dari bawahan sekelilingnya.

Berikutnya, kepemimpinan butuh regenerasi. Kepemimpinan yang baik harus sustainable, berkelanjutan Extra resources. Kepemimpinan yang baik bukan semata milik sebuah generasi. Ia harus berlanjut dari generasi ke generasi, sehingga keberlangsungan perusahaan tetap ‘berkibar’ hingga masa-masa mendatang.

Kepemimpinan model distributed leadership ini memungkinkan peralihan generasi menjadi lebih mudah, terukur, dan terstruktur. Model kepemimpinan ini tidak seperti waktu dulu, yang ujug-ujug, spontan, dan mendadak tanpa persiapan terlebih dulu. Tanpa pengaruh dan tanpa memahami tugas-tugas yang akan diemban. Distributed leadership mendidik sejak lama, jauh sebelum seseorang didaulat menjadi pemimpin.

Pelimpahan wewenang, pengaruh, dan tugas tidak serta merta dilakukan secara resmi dalam sebuah surat berstempel perusahaan. Kepemimpinan terdistribusi itu berlangsung sistematis dan terstruktur, dan berlangsung secara alamiah. Bukan menolak, tapi terjadi tidak karena suksesi yang dipaksakan. Setiap orang sadar diri bahwa melakukan suatu tugas, bukan menjalankan tugas semata. Ia juga memahami pengaruhnya apa dari tugas yang dia emban. (majalahscg.com)